by

Benih Lada Dan Jahe Tidak Aman Dari India Dimusnahkan

Benih Lada Dan Jahe Tidak Aman Dari India Dimusnahkan

Bulatin.com – Badan Karantina Kementerian Pertanian menghancurkan benih rempah ilegal asal India di instalasi karantina Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (25/1). Benih rempah ilegal ini diambil alih dari warga Negara India berinisial PS, yang masuk ke Indonesia dengan menggunakan pesawat hawa Malindo Air.

“Yang berkaitan membawa 561 batang benih lada dan 1 kg umbi jahe tiada disertai surat agunan kesehatan dan atau phytosanitary certificate dari otoritas Karantina di India,” jelas Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Banun Harpini selesai lakukan pemusnahan tanda bukti.

Bahayanya, benih rempah berbentuk lada dan jahe ilegal ini punya potensi membawa hama penyakit atau organisme penganggu tumbuhan karantina (OPTK). diantaranya berbentuk serangga Longitarsus nigripennis, cendawan Rosellinia necatrix dan Phytophthora citropththora.

“Tidak hanya itu, benih tersebut juga dapat membawa bakteri Pseudomonas syringae pv. syringae serta gulma Cirsium arvense untuk lada dan cendawan Macrophomina phaseolina pada jahe,” kata Banun.

Berdasar pada Permentan nomer 31 tahun 2018 mengenai Type OPTK, benih ini masuk ke alat pembawa OPTK yang punya potensi sebarkan penyakit.

“Sebab beberapa OPTK ini merupakan kelompok I, berarti belumlah ada di Indonesia dan tidak bisa sembuh dengan perlakuan, begitu bahaya buat budidaya rempah kita,” tegasnya.

Tidak hanya tidak disertai phytosanitary certificate, benih ini pun tidak mempunyai Surat Izin Pemasukan Menteri Pertanian dari Negara Indonesia. Walau sebenarnya menurut pernyataan pemilik, benih tersebut gagasannya akan ditanam di lokasi Republik Indonesia.

Diterangkan Banun, sebelum pengungkapan rempah ilegal berbentuk lada dan Jahe kali ini, Badan Karantina Pertanian Soekarno-Hatta pun sudah berhasil menjumpai pemasukan OPTK Kelompok I pada tanaman Anggrek asal Thailand di akhir tahun 2018.

Waktu itu, petugas Karantina Pertanian Soetta, merasakan benih anggrek dendrobium dan onchidium sekitar 127.000 batang yang dibawa penumpang pesawat tiada diserta Phytosanitary Certificate dari otoritas Karantina Thailand.

“Sesudah ditahan dan dicheck, hasil laboratorium benih positif memiliki kandungan Burkholderia gladioli pv. gladioli yang merupakan OPTK kelompok A1 kelompok I,” kata ia.

Bukan sekedar itu, kentang irislah seberat 31,4 kg asal Kanada, Jambu Air (Syzygium samarangense var.samarangense) beresiko asal Thailand pun berhasil dihindari.

Di saat yang bertepatan, lanjut Banun, alat pembawa Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) berbentuk daging sapi fresh seberat 25,9 kg, daging babi seberat 8,3 kg, daging ayam seberat 3,1 kg, butter seberat 3,2 kg dan keju Mozarela seberat 4,6 kg dari Cina pun ikut dihilangkan dengan menggunakan incinerator.

“Trend usaha pemasukan alat pembawa yang punya potensi membahayakan kelestarian alam kita bertambah, untuk itu tidak hanya penguatan skema pengawasan perkarantinaan jadi satu kewajiban, pun adanya kepedulian dan keterlibatan masyarakat begitu dibutuhkan,” pungkas Banun.

Untuk itu, Banun mengapresiasi kerja sama tim intelejen Bandarra Internasional Soekarno-Hatta yang sudah berhasil menahan masuknya beberapa alat pembawa yang beresiko tersebut.

Ia pun memberikan instruksi semua jajarannya untuk selalu tingkatkan pengawasan di pintu pemasukan tidak cuma di bandara, akan tetapi pun di pelabuhan laut dan penyeberangan, pos lintas batas negara dan pun melalui kantor pos di semua Indonesia.

“Saya instruksikan semua deretan untuk tingkatkan pengawasan di Pelabuhan hawa, laut dan pos lintas batas dan pun kantor pos di semua Indonesia,” tegas ia.