oleh

Film Dolittle, Petualangan Dokter yang Bisa Berkomunikasi Dengan Hewan

Jakarta – ‘Dolittle’ dibuka dengan meyakinkan meskipun jadwal rilis film ini mengatakan yang sebaliknya. Menurut Wikipedia, bujet film ini sampai 175 juta dolar. Biasanya film dengan bujet sebanyak itu akan dilempar di musim panas atau akhir tahun untuk mendapatkan jumlah penonton yang maksimal. Itu sebabnya opening film ini yang dibuat dalam bentuk animasi memberikan harapan. Walaupun hal tersebut tidak bertahan lama.

Dalam pembukaan tersebut kita mengetahui bahwa Dolittle (Robert Downey Jr.) adalah seorang laki-laki yang mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Dia bisa berkomunikasi dengan hewan. Dan itulah yang membuatnya menjadi dokter hewan yang paten. Saking hebatnya Dolittle, jasanya sering dipakai oleh Ratu Victoria (Jessie Buckley) yang menghadiahinya tanah sehingga Dolittle bisa menggunakan tanah tersebut sebagai suaka bagi hewan-hewan yang terlantar.

Istrinya, Lily (Kasia Smutniak), sama seperti Dolittle yakni mencintai binatang dan pergi bertualang. Kemudian Lily pergi untuk bertualang dan tak pernah kembali. Meninggalkan Dolittle dalam kesedihan yang mendalam. Dia menutup praktiknya. Gerbang yang tadinya terbuka lebar sekarang berdebu dan dihiasi oleh tanaman merambat. Kematian Lily menutup cahaya hidup Dolittle.

Kemudian datang lah Lady Rose (Carmel Laniado) yang mengatakan bahwa Ratu Victoria sedang sakit. Dolittle tak peduli. Dia dokter hewan. Sakitnya Ratu Victoria tidak ada hubungannya apa-apa dengan eksistensinya. Tapi kemudian Lady Rose memberi tahu bahwa jika Ratu Victoria meninggal, dan itu akan terjadi kalau Dolittle tidak menolongnya, tanah ini akan disita dan seluruh binatang yang ada di dalamnya akan terancam. Mau tak mau Dolittle pun menyiapkan seluruh armadanya yang terdiri dari berbagai macam binatang yang menjadi sahabatnya, serta Tommy Stubbins (Harry Collett) seorang anak kecil yang ingin menjadi asistennya, pergi bertualang untuk mencari obat bagi Ratu Victoria.

‘Dolittle’ adalah jenis film yang akan membuat penonton di bawah 15 tahun kesenangan. Ini adalah jenis film yang akan disukai oleh penonton yang menyukai komedi semacam naga yang kentut dan mengeluarkan bagpipes dari pantatnya. Bocah-bocah akan tertawa terbahak-bahak melihat seorang beruang kutub yang ironinya tidak suka dingin (disuarakan oleh John Cena) atau seorang gorilla yang ternyata penakut (disuarakan oleh pemenang Oscar, Rami Malek). Tapi bagi penonton dewasa yang menyukai sesuatu yang agak menstimulus otak, ‘Dolittle’ akan terasa sangat membosankan.

Anehnya ‘Dolittle’ memiliki empat orang penulis (Stephen Gaghan yang juga menjadi sutradaranya, Dan Gregor, Doug Mand dengan cerita dari Thomas Shepherd). Padahal secara cerita, ‘Dolittle’ sama sekali tidak menawarkan apa-apa yang kompleks atau menarik. Film ini berjalan dari plot poin ke plot poin. Hampir tidak ada sesuatu yang menimbulkan emosi, kecuali apa pun yang berhubungan dengan kematian Lily. Tapi itu pun dibuat dengan sensibilitas kartun Minggu pagi.

Selama 102 menit penonton akan diajak bertualang dengan beberapa lelucon sana-sini dan kelakuan binatang-binatang yang tidak sesuai dengan takdir mereka sebagai bahan utama humor film ini. Ada bagian di mana Dolittle harus menghadapi mertuanya (yang diperankan oleh Antonio Banderas yang umurnya hanya lima tahun lebih muda dari Robert Downey Jr.). Tapi semuanya terasa hampa dan nihil tanpa ada bahaya sama sekali.

Klimaks film ini mengkonfirmasi bahwa ‘Dolittle’ adalah film untuk anak-anak (atau mungkin orang dewasa yang ingin mematikan otak di kala stresnya deadline). Setelah semua marabahaya yang mengancam sepanjang film (yang tentu saja semuanya bisa dilewati dengan begitu mudah) dan Robert Downey Jr. harus menghadapi Dr. Blair Mudfly (Michael Sheen) yang licik, semuanya berakhir dengan sebuah adegan operasi yang sangat komikal, hiperbola tapi hasilnya tidak selucu macan (disuarakan oleh Ralph Fiennes) yang mempunyai mother issues.

Sebenarnya ‘Dolittle’ berpotensi menjadi film yang jauh lebih bisa dinikmati, kalau saja pembuat filmnya sadar bahwa mereka sedang membuat film yang cetek. Tapi sepertinya terjadi berbagai banyak di belakang layar sehingga dari konsep ke hasil akhir rasanya jauh berbeda. Stephen Gaghan menginginkan Dolittle menjadi sebuah film keluarga menyenangkan, tapi serius seperti ‘Toy Story’ tapi malah berakhir dengan film keluarga slapstick seperti aksi para Minions.

Robert Downey Jr. meskipun terasa sangat aneh dengan aksen-nya tetap mempunyai kharisma seorang bintang, meskipun dia tidak semenarik biasanya. RDJ tahu sekali bahwa aura saya-lebih-pintar-dari-kamu yang ia pertontonkan melalui Iron Man dan juga Sherlock Holmes adalah alasan kenapa dia menjadi salah satu aktor Hollywood termahal dan ia menggunakannya secara maksimal di film ini. Tapi satu-satunya yang mencuri perhatian dalam ‘Dolittle’ adalah Michael Sheen. Karena dia satu-satunya yang berakting sesuai dengan hasil akhir filmnya, komikal dan over-the-top.

‘Dolittle’ cocok ditonton bagi Anda yang mempunyai banyak bocah-bocah yang mau menonton 102 menit tanpa perlu berpikir banyak. Anak dua tahun pun dijamin bisa mengikuti cerita film ini tanpa perlu banyak bertanya. Visualnya lumayan warna-warni untuk membuat siapa pun tetap fokus. Dan meskipun beberapa visual efek CGI binatang-binatangnya terasa aneh, karena mereka terasa tidak ada di ruang yang sama dengan karakter manusianya, banyak adegan dalam film ini yang akan membuat bocah-bocah terkesima. Film ini sempurna sekali bagi Anda yang ingin melepas stres dan tidak mau berpikir apa-apa lagi.