by

Gereja Hati Kudus Yesus Resmi Menjadi Cagar Budaya

Gereja Hati Kudus Yesus Resmi Menjadi Cagar Budaya

Bulatin.com – Nuansa kemegahan kota berasa begitu masuk Jalan Jenderal Basuki Karunia mendekati Alun-Alun Kota Malang. Padangan mata langsung tangkap, bangunan gereja classic yang menjulang dan seakan menegur siapa saja yang hadir.

Jalan yang dikit melengkung membuat bangunan itu terlihat dengan berlahan-lahan diantara bermacam poster dan penyeberangan jalan. Bangunan iconic tengah kota itu adalah Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau dimaksud Gereja Kayutangan.

Gereja Katolik paling tua di Kota Malang itu dibangun pada 1905 menjadi pemberi tanda kota dengan dua menaranya yang menjulang setinggi 33 mtr.. Keberadaannya di Jalan Kayoetangan dan saat ini jadi Jalan Basuki Karunia membuat pun dimaksud gereja Kayutangan.

Pemerintah Kota Malang mengambil keputusan Gereja Hati Kudus Yesus menjadi salah satunya benda cagar budaya diantara 32 benda yang lainnya. Keberadaannya mempunyai peranan terpenting dalam perubahan Kota Malang.
“Gereja ini jadi saksi eksistensi umat Katolik semenjak waktu kolonial Belanda di Kota Malang,” kata Agung H Buana, Sekretaris Team Pakar Cagar Budaya Kota Malang, Selasa (15/1).

Seni bangunan gereja ini tunjukkan keunikan bangunan pertengahan Era 19 dengan susunan gedungnya yang tinggi dengan style arsitektur gothic. Sebab memang perancangnya arsitek Belanda lulusan Kunstniverheidschool Quellinus di Amsterdam, Marius J. Hulswit. Seperti didapati Kunstniverheidschool Quellinus di pimpin Petrus Josephus Hubertus Cuypers, arsitek neo-ghotic di Belanda.

Mode strukturnya kerangka kuat pada dinding dan atap yang berperan menjadi penutup. Gereja ini mempunyai jendela dan pintu yang besar pada dinding dengan konstruksi skelet. Terlihat pada tembok luar gereja yang didukung tiang peyangga dinding berupa persegi.

Walau berarsitektur gereja gothic, denah bangunan berupa kotak, tidak berupa salib seperti kebanyakan gereja gothic. Tidak hanya itu pun tidak diketemukan adanya ruangan double aisle atau nave dan sejenisnya.

Lebar bangunan kira-kira 11,4 mtr. dan panjang sekitar 40 mtr.. Disamping kiri dan kanan sisi depan bagunan ada tangga ke arah lantai dua yang tidak penuh.

“Ke-2 tangga inilah, pada terlihat luarnya dibikin dua menara (tower) yang biasa diketemukan di gereja-gereja Neogothik,” tuturnya.

Menara tersebut dibuat sekitar tahun 1930-an dan terdaftar 2x roboh semenjak dibuat. Menara itu sempat roboh pada 10 Februari 1957 saat sedang berjalan khotbah di dalamnya. Salib di ujung menara roboh sampai memunculkan lubang di atapnya. Menara kembali roboh pada 27 November 1967, karena ditabrak satu pesawat TNI AU.

Sesaat altar kayunya dipesan dari seorang tukang kayu keturunan Cina di Surabaya. Akan tetapi altar yang saat ini ini bukan kembali yang dibuat oleh arsitek aslinya. Altar lamanya telah didepak pada 1965.

Sampai saat ini, gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan masih kuat berdiri jadi simbol Kota Malang. Wisatawan tidak sempat lepas melihat dan berkunjung ke gereja menterang itu.

Walikota Malang Sutiaji, menjanjikan akan memberi stimulan buat bangunan Cagar Budaya. Stimulan berbentuk dana pembiayaan perawatan atau kemudahan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Stimulannya nanti berbentuk pengurangan pajak dan cost perawatan,” tegas Wali Kota Malang, Sutiaji, selesai mengambil keputusan 32 bangunan dan susunan bangunan menjadi cagar budaya, Senin (14/1).

Pemberian stimulan menjadi usaha mengawasi bangunan bersejarah yang masih tersisa. Sebab banyak bangunan heritage yang hilang dibongkar dan berubah manfaat. “Jika kita tidak lihat, perlahan tetapi tentu ini akan punah,” tegasnya.