by

Indra Rudiansyah, Peneliti asal Indonesia di Balik Vaksin AstraZeneca

Nama Indra Rudiansyah, baru-baru ini kembali disorot oleh masyarakat karena andilnya dalam pembuatan vaksin Covid-19.

Diketahui, Indra Rudiansyah terlibat dalam tim Jenner Uni of Oxford yang membantu uji klinis vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Penelitian yang digawangi oleh Sarah Gilbert, Profesor di bidang vaksinologi Universitas Oxfod ini, telah dimulai sejak Januari 2020 lalu.

Melansir dari Antara, Indra Rudiansyah merasa bangga bisa turut andil dalam tim riset dan pengembangan vaksin AstraZeneca.

“Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk thesis saya,” ungkap mahasiswa yang menempuh pendidikan D.Phil in Clinical Medicine, Jenner Institute, University of Oxford dikutip dari Antara.

Namun siapakah sebenarnya sosok Indra Rudiansyah ini, sehingga ia bisa turut andil dalam pengembangan vaksin yang berguna bagi jutaan umat di tengah pandemi.

Berikut biodata dan profil singkat Indra Rudiansyah, yang dilansir dari berbagai sumber.

Biodata Indra Rudiansyah

Nama Lengkap: Indra Rudiansyah

Tanggal lahir: 1 September 1991

Riwayat Pendidikan:

– Beswan Djarum 2011-2012

– S1 Mikrobiologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) 2009-2013

– S2 Bioteknologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) 2013-2014

– Doctor of Philosophy – PhD Clinical Medicine, University of Oxford 2018-sekarang

– Graduate Student of Clinical Medicine, Brasenose College 2018-sekarang

Akun Instagram: @rudianindra

Berlatang belakang pengetahuan mikrobiologi, Indra Rudiansyah memiliki antusiasme besar dalam bidang biotek, bioproses, dan teknologi mutakhir seperti pengeditan genom dan biologi sintetik.

Kecakapannya dalm bidang ini terbukti saat proyek besar pertamanya terkait rekayasa genetika dipresentasikan dalam kompetisi International Genetic Engineering Machine (iGEM) 2013.

Bersama rekannya di ITB, ia membangun sirkuit genetik untuk mendeteksi kontaminan aflatoksin dalam stok makanan.

Sebelum menyelami pendidikan di Oxford, di usianya yang 29 tahun Indra Rudiansyah pernah bekerja sebagai peneliti di PT Biofarma hingga ia mendapat beasiswa LPDP.

Awal mula ia direkrut oleh Sarah Gilbert adalah saat kondisi di mana kampus Oxford sedang sepi karena lockdown dan Indra Rudiansyah mendapati labnya sedang kekurangan orang untuk penelitian.

Meskipun Thesisnya lebih fokus kepada vaksin malaria, ia mengaku tergerak hatinya untuk mengamalkan pengetahuannya dalam studi kasus nyata pembuatan vaksin.