by

Inilah Alasan Sebaiknya Anda Tak Anggap Sepele Nyeri Leher

Inilah Alasan Sebaiknya Anda Tak Anggap Sepele Nyeri Leher

Bulatin.com – Tak seperti bagian pinggang, orang cenderung menyepelekan sakit di bagian leher. Rasa pusing, nyeri, pegal terkadang hanya dianggap penyakit sepele. Penderitanya lebih memilih untuk melakukan pijatan atau tusuk jarum, atau mungkin obat pereda nyeri. Padahal ternyata dari rasa pusing yang tak kunjung hilang, bisa jadi tanda ‘kecetit’ (kejepit) di bagian leher.

Penyakit ini juga kabarnya menjadi penyakit nomor dua yang dianggap paling menyakitkan. Penderita biasanya tak mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya sehingga merasa putus asa.

“Beda filosofi, di leher walaupun penyakit berat, hampir lumpuh pun orang enggak merasa sakit. Karena bebannya cuma 3,5 kilogram beban kepala. Walaupun sudah parah, nyaris lumpuh, enggak paham dia, cuma kemeng-kemeng (nyeri). Sebab itu kalau ada neck arm pain yang menahun sebaiknya kontrol ke dokter ahli, minimal foto rontgen,” kata Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. M.Sofyanto SpBS.

Dokter yang telah melakukan ribuan operasi mikrovascular decompresi tersebut menyarankan untuk melakukan rontgen karena penyakit ini umumnya sulit dikenali, dan hanya melalui foto rontgen bisa dilihat kelainan yang timbul di bagian leher. Karena itu sebaiknya jangan menyepelekan sakit kepala, jika dibiarkan lebih lanjut biasanya penderita akan mengalami gangguan otonom.

“Nyeri di leher dan bahu, dikira sakit kepala, migrain, vertigo, lama-lama lengan tangan gangguan, fungsi otonom terganggu, seperti buang air besar, buang air kecil, gangguan seksual,” jelasnya.

Kasus sakit kepala menahun seperti ini juga pernah dialami Susi Success. Mantan pramugari penerbangan ternama ini mengalami nyeri selama tujuh tahun dan semakin menyiksa. Sempat salah diagnosa dan hampir memilih mengakhiri hidupnya, Susi beruntung bisa dipertemukan dengan mobile Discoplasty yang memungkinkannya untuk bisa bebas bergerak lagi tanpa rasa nyeri, pusing, dan keluhan lain.

“Salah diagnosisnya. Dokter di Jakarta fokus di punggung, mereka enggak tahu ternyata biangnya di leher. Setiap kali fisioterapi, akupunktur mereka fokus di punggung, saya juga enggak tahu,” ujarnya yang akhirnya sembuh usai menjalani operasi bedah micro yang memungkinkannya dioperasi tanpa bekas jahitan, bahkan tak berdarah dan bisa langsung pulang usai menjalani operasi.