Site icon BULATIN

Kisah Luka Modric Sebelum Hingga Menjadi Pemain Terbaik Piala Dunia

Kisah Luka Modric Sebelum Hingga Menjadi Pemain Terbaik Piala Dunia

Bulatin.com – Tumbuh dalam situasi perang di era Yugoslavia, Luka Modric, hidup dalam kondisi yang serba susah saat kecil. Semasa bocah, Modric bersama keluarganya tinggal di kawasan Zaton Obrovacki, sebuah desa yang berada di kawasan Jasenice, provinsi Zadar.

Desa ini, di era 1980 hingga 1990 masih dikenal sebagai sebuah kawasan yang liar. Para penduduknya memilih untuk jadi pekerja kasar, termasuk klan Modric.

Ayah Modric, Stipe, dan ibunya Radojka, adalah buruh tekstil yang bekerja dalam jam kerja tak wajar. Saat usia lima tahun, Modric memutuskan membantu kakeknya yang menjadi peternak. Tugasnya kala itu adalah membantu sang kakek untuk menggembala domba.

Tak mudah bagi Modric dalam melaksanakan tugasnya. Sebab, dia harus naik-turun gunung dan bahaya selalu mengancam karena masih banyak serigala yang mengintai domba-domba peliharaan keluarganya. Hanya saja, Modric kerap ditemani ayahnya untuk menggembala domba.

“Saya memiliki proyek untuk film dokumenter tentang alam dan binatang. Saya suka dengan kehidupan liar, terutama serigala. Akhirnya saya mulai bepergian, dan bertemu dengan klan Modric di sebuah gunung yang banyak dipenuhi batu,” kata seorang Produser Film Dokumenter, Pavle Balenovic, dilansir The Sun.

“Mereka sangat ramah, sopan. Saya mengunjungi mereka saat sedang buat film di sana. Kemudian, saya dengar mereka pindah ketika perang berkecamuk. Dan, setelah sekian lama, seorang anak pirang yang dulunya begitu lugu menjadi seorang pesepakbola terkenal Kroasia, Luka Modric,” lanjutnya.

Pekerjaan sebagai penggembala domba hanya bisa dilakoni Modric sampai usianya enam tahun. Sebab, pada 1991, perang di Yugoslavia mencapai puncaknya.

Desember 1991, kejadian pilu menghampiri Modric. Dia harus menyaksikan kakeknya dieksekusi oleh kelompok pemberontak Kroasia-Serbia yang merupakan anggota polisi SAO Krajina.

Bukan cuma harus menyaksikan sang kakek dieksekusi, Modric harus rela kehilangan rumahnya yang dibakar para pemberontak.

Alhasil, Modric dan anggota keluarganya yang tersisa harus mengungsi selama tujuh tahun.

Mereka tinggal di hotel Kolovare, Zadar. Dan, saat menjadi pengungsi, Modric lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bola di parkiran hotel.

Saat sedang bermain, keluarga Modric melihat ada hal yang tak biasa. Mereka menilai ada bakat terpendam yang dimiliki oleh Modric.

Hingga akhirnya, Modric didaftarkan di sebuah akademi NK Zadar. Pelatih masa kecilnya, Domagoj Basic, dan kepala akademi, Tomislav Basic, merupakan dua tokoh yang paling berjasa terhadap Modric.

Bahkan, dilansir These Football Times, Basic dianggap sebagai ayah angkat Modric. Kenapa? Basic memang sangat baik kepada Modric.

Saat gabung ke NK Zadar, Modric sama sekali tak memiliki uang. Jangankan sepatu, untuk membeli shin pad saja, Modric tak mampu.

Maklum, saat itu kondisi orang tua Modric memang susah karena menjadi pengungsi. Basic berbaik hati membelikan Modric sepatu dan membuatkannya shin pad dengan bahan baku kayu.

Tak ada raut wajah cemberut yang ditampilkan Modric kala harus berlatih dengan shin pad kayu. Justru, dia terlihat senang.

Di usia 12 tahun, Modric mencoba untuk trial bersama klub favoritnya, Hajduk Split. Tapi, pil pahit harus ditelannya. Modric tak lolos.

Fakta ini membuat Modric terpukul. Basic kembali datang sebagai pahlawan. Dia memberikan suntikan moral kepada Modric.

Hingga akhirnya, Modric bangkit dan melanjutkan impiannya sebagai pesepakbola. Usia 17 tahun, Modric ikut dalam sebuah trial di klub terbesar Kroasia, Dinamo Zagreb. Kali ini, Modric berhasil direkrut.

Selama bermain untuk akademi Dinamo, Modric sudah mampu memukau banyak pemandu bakat. Beberapa klub seperti Parma, Inter Milan, dan Juventus, berniat merekrutnya.

Namun, Basic percaya, Modric lebih baik dikembangkan di Kroasia terlebih dulu karena bakal mendapatkan jam terbang yang tinggi.

Keputusan Basic memang benar. Di Dinamo, Modric berkembang sebagai gelandang yang begitu keratif.

Akhirnya, Modric memutuskan untuk berkarier di Inggris pada 2008 silam. Pemain 32 tahun tersebut pun mendapatkan pinangan dari Real Madrid di 2012.

Bersama Madrid, Modric semakin matang. Dia kini dikenal sebagai salah satu trequartista terbaik dunia. Dan, status tersebut dikukuhkan Modric saat berhasil menyabet trofi pemain terbaik di Piala Dunia 2018.

Exit mobile version