Site icon BULATIN

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Sunat Perempuan

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Sunat Perempuan

Mengenal Lebih Dalam Mengenai Sunat Perempuan

Bulatin.com – Bagi sebagian orang, mendengar kata sunat perempuan sudah membayangkan hal menyeramkan. Apalagi, sunat perempuan di beberapa negara diyakini bisa membuat wanita kehilangan gairah seksualnya.

Padahal dari sisi agama tertentu, sebenarnya sunat perempuan dianggap penting dan hukumnya sunah atau dianjurkan. Namun, hal itu masih pro-kontra hingga kini.

Bahkan, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1636 tahun 2010 tentang Sunat Perempuan sudah dicabut. Alasannya, sunat tersebut bukan tindakan medis, lebih kepada tradisi budaya dan agama.

Kendati demikian, praktik ini di Indonesia dan beberapa negara Asia lain masih dilakukan. Sunat perempuan dilakukan dengan cara menoreh clitoral hood (tudung klitoris) atau ada yang memotongnya dengan catatan jika klitoris sedikit lebih panjang dari umumnya.

Dalam acara Diskusi Media ‘Manfaat Khitan Perempuan dalam Tinjauan Medis, Hukum, dan Syari’at’ di Puri Denpasar Hotel, Jakarta Selatan, Rabu 25 April 2018, dr. Valleria, SpOG menjelaskan cara sunat perempuan, yang sebenarnya sungguh sederhana. Bahkan sunat tersebut tidak mengeluarkan darah sama sekali jika dilakukan oleh kalangan profesional.

“Ada pinset, dibuka (bagian klitoris), dengan jarum suntik steril ujungnya tajam ditoreh ke atas. Bahkan prosedur begini tidak ada pendarahan. Apalagi bayi, rata-rata bayi belum ada pembuluh darah besar, kalaupun ada darah, tinggal dipencet kasa, pendarahan berhenti,” kata dia.

Secara umum, dia menuturkan bahwa sunat perempuan tidak seperti tindakan mayor dan sangat kecil risikonya dibanding sunat laki-laki. Sebab, tidak ada jahitan dan caranya lebih simpel dibanding sunat laki-laki.

“Ada sebagian kulit penutup klitoris agak gondrong digunting sedikit, habis itu jaringan terluka sedikit tidak perlu penjahitan, hanya ditekan kasa, pendarahan berhenti,” ujarnya.

Metode yang bisa diselesaikan dalam waktu lima menit dan tanpa menggunakan bius tersebut secara medis bertujuan untuk membersihkan area yang bisa menyimpan kotoran jika tidak dibersihkan secara benar. Itu sama seperti pada kulup penis pria yang harus disunat.

“Kalau di laki-laki namanya penis, di perempuan tidak berkembang dan ada penutup kulupnya seperti penis. Itu yang dipotong, antara klitoris dan kulit penutupnya bisa tersimpan kotoran sama seperti anak laki-laki, dipotong sedikit supaya klitoris kelihatan,” tutur dia.

Exit mobile version