Site icon BULATIN

Menteri Pendidikan Mengatakan Soal Matematika UN Sudah Sesuai Standar Dunia

Menteri Pendidikan Mengatakan Soal Matematika UN Sudah Sesuai Standar Dunia

Bulatin.com – Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan menyikapi dengan baik beragam masukan mengenai proses Ujian Nasional (UN), salah nya ialah proses ujian pada mata pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas yang dipandang susah oleh beberapa peserta didik.

“Saya menghormati tanggapan peserta didik yang sudah mengekspresikan perasaannya lewat sosial media yang didasari pada norma yang baik, ” kata Menteri Pendidikan serta Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam info tertulis di Jakarta, diambil Rabu, 18 April 2018.

Muhadjir menerangkan, bebrapa masalah UN yang menuntut penalaran harusnya dikenalkan pada beberapa peserta didik.

“Soal-soal penalaran pada ujian nasional sebenarnya cuma sekitaran 10 % dari keseluruhan semua. Ini dikerjakan jadi ikhtiar untuk sesuaikan dengan bertahap standard kita dengan standard internasional, diantaranya seperti standard Program for International Student Assessment (PISA), ” tuturnya.

Kata dia, pengenalan masalah penalaran ini, adalah usaha untuk menguber ketertinggalan perolehan kompetensi siswa Indonesia di tingkat internasional. Diluar itu juga, jenis masalah penalaran adalah satu diantara tuntutan kompetensi dalam evaluasi era 21, yaitu berfikir gawat, kreatif, komunikatif, serta kolaboratif.

Begitu, peserta didik diinginkan dapat menganalisa data, buat perbandingan, buat rangkuman, merampungkan problem, serta mengaplikasikan pengetahuan pada konteks kehidupan riil.

Berdasar pada Badan Standard Nasional Pendidikan, kalau masalah UN tahun 2018 diperkembang berdasar pada kisi-kisi yang disusun oleh Kemendikbud, dengan melibatkan guru, yang setelah itu diputuskan oleh Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP) pada Agustus 2017, serta dimuat di situs http :// bsnp-indonesia. org.

Kisi-kisi itu sudah disusun sesuai sama kompetensi basic yang perlu di ajarkan oleh guru seperti di uraikan dalam kurikulum evaluasi di sekolah, serta dituangkan dalam buku mata pelajaran.

“Kisi-kisi ini di buat pada umumnya atau generik, tidak khusus menghadap disuatu bentuk masalah spesifik. Tujuannya supaya evaluasi di sekolah-sekolah tidak terjerat pada sistem drilling bebrapa masalah UN. Guru harus mengajarkan materi evaluasi dengan memprioritaskan pemahaman rencana serta penalaran, bukan hanya drilling masalah, ” papar Mendikbud.

Lewat penyelenggaraan UN ini, Mendikbud mengharapkan pada semuanya pihak berkaitan supaya jadikan hasil analisa UN jadi satu diantara alat refleksi serta referensi untuk penambahan kualitas pendidikan.

“Saya mengharapkan pada Kepala Dinas Pendidikan, guru, kepala sekolah, serta pengawas jadikan hasil analisa ujian ini jadi cermin yang jujur, serta yang terutama bisa jadi pendorong perbaikan kualitas evaluasi, ” pesan Mendikbud.

Diluar itu, Mendikbud juga mengharapkan pada beberapa siswa bisa mengerti serta yakini kalau evaluasi adalah sistem yang panjang, tidak dapat instan.

“Tetaplah semangat, belajar benar-benar, serta selalu berupaya tingkatkan kekuatan serta kompetensi semasing. Jadilah manusia pembelajar selama hayat, ” katanya.

Kepala Badan Riset serta Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno memberikan, kalau bebrapa masalah UN terbagi dalam tiga level kognitif yakni level satu (pengetahuan pemahaman) sekitaran 30 %, level dua (aplikasi) sekitaran 60 %, serta level tiga (penalaran) sekitaran 10 %.

Soal-soal itu, lanjut dia, ditulis oleh guru serta ditelaah oleh beberapa guru yang kompeten serta dosen dari sebagian perguruan tinggi.

Hasil UN ini, kata Totok, juga akan dianalisis untuk mendiagnosa beberapa tema yang perlu diperbaiki di tiap-tiap sekolah untuk tiap-tiap mata pelajaran UN. ” Hasil analisa itu juga akan didistribusikan ke semuanya Dinas Pendidikan untuk dilakukan tindakan dengan program-program penambahan kualitas evaluasi, ” tutur Totok.

Exit mobile version