Site icon BULATIN

Pemakai Hijab Turban Dianggap Pendosa di Malaysia

Bulatin.com, Jakarta – Penyanyi asal Malaysia, Yuna, yang sukses go international, identik dengan gaya hijab turban. Siapa sangka Yuna yang terkenal di dunia sebagai penyanyi muslimah itu ternyata sering dihujat di negaranya karena pilihan gaya hijabnya.

Helina Mohd Noor adalah salah satu wanita berhijab yang memilih memakai hijabnya dengan gaya turban seperti Yuna. Helina yang berhijab sejak lima tahun lalu awalnya tak menggunakan gaya hijab turban. Dia memakai hijabnya seperti layaknya wanita Malaysia lainnya, mengenakan hijab segitiga yang memanjang hingga menutupi dadanya.

“Untuk dua tahun pertama, saya benar-benar berjuang dengan gaya ini,” kata Noor, 36 tahun. Dia adalah seorang ibu rumah tangga dan penyuka fashion serta memiliki bisnis sampingan membuat tas tote.

Dengan cuaca Malaysia yang cenderung lembab, Helina mulai bereksperimen dengan turban, gaya hijab yang membungkus hanya rambutnya. Tapi masalah lain muncul ketika ia tidak bisa menemukan pakaian yang sesuai, yang dapat menutupi lehernya. Merasa bingung, Noor mulai membuat pakaiannya sendiri. Dia pun bisa tampil dengan gaya turban dan busana yang tetap menutupi auratnya. Gaya uniknya ini menarik perhatian wanita lainnya yang kemudian memintanya dibuatkan busana serupa.

Tetapi masih ada satu masalah. “Ada stigma bahwa mereka yang memakai turban itu tidak serius dalam mengenakan jilbab, ” katanya. “Pemakai turban hanya ingin menjadi gaya, mereka bilang, tidak religius. Aku butuh beberapa tahun untuk memakai gaya ini di depan umum karena aku takut apa yang orang akan katakan,” jelas Noor seperti dikutip dari South China Morning Post.

Kritikan yang sama juga dialami penyanyi Yuna dan aktris Neelofa. Kedua selebriti Malaysia ini yang dianggap mempopulerkan gaya hijab turban. Namun semakin populernya gaya hijab turban di kalangan wanita Malaysia, membuatnya semakin kontroversial. Pada satu sisi, turban dicintai oleh pecinta mode, tapi di sisi lain dibenci oleh kaum konservatif.

“Turban menunjukkan pemberdayaan, persimpangan religiusitas dan kepribadian pemakainya,” jelas Nurzihan Hassim, dosen senior di media dan komunikasi di Universitas Taylor’s di Malaysia yang mempelajari tentang hijab.

Hassim mengatakan bahwa dibutuhkan kreativitas, kepercayaan diri, dan semangat tertentu untuk mengekspresikan diri sebagai seorang wanita muslim.

“Ini jelas meredupkan persepsi yang agak menindas tentang jilbab, mengingat banyak selebriti muslim muda yang sedang bersinar dan menjadi bintang di media sosial tidak takut untuk menjadi diri mereka sendiri,” ucap Hassim.

Pemakaian turban memang akan menuai protes dan kemarahan di media sosial setiap kali seorang selebriti muslim lokal terlihat mengenakan jilbab sebagai turban. Pada awal tahun ini misalnya, aktris Mira Filzah dihujat usai memberikan tutorial lewat Facebooknya tentang cara memakai shawl dengan merek jilbab lokal menjadi turban.

Ratusan komentar dituangkan dalam postingan tersebut. “Ini tidak sesuai Syariah,” tulis netizen. “Kamu memamerkan payudara Anda. Ini adalah dosa, Mira. Allahuakbar mohon ajarkan cara yang tepat untuk menutupi aurat kita,” kata pengguna Facebook lainnya.

Dr Norsaleha Mohd Salleh seorang dosen senior dalam studi Islam di International Islamic College, Kuala Lumpur mengatakan tiga persyaratan yang paling penting ketika mengenakan jilbab adalah sebagai bentuk ketaatan pada Allah SWT, untuk menutup aurat dan mematuhi hukum syariah-seperti dengan memastikan bagian dada ditutupi dan mengenakan jilbab yang longgar. Bagaimana wanita muslimah memenuhi syarat ini dalam berbusana, menurut Dr Norsaleha kembali pada kreativitas mereka. Turban tidak dilarang hanya karena bahan tidak jatuh ke bagian dada. Mereka yang memakai turban dapat mengenakan aksesori lain untuk menutupi bagian leher dan dada.

“Selama mereka memenuhi tiga persyaratan tersebut,” kata Dr Norsaleha.

 

Exit mobile version