by

Penyebab Pria Sering Merasa Cemas Usai Bercinta

Penyebab Pria Sering Merasa Cemas Usai Bercinta

Bulatin.com – Obsesi berlebih terhadap seks dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, merupakan suatu hal yang mesti dikhawatirkan. Sebagian kalangan ada yang secara khusus mengonsultasikan problematika hubungan seksnya dengan ahli, misalnya kasus kecanduan seks. Tapi ada satu hal yang jarang menjadi fokus perhatian, yaitu kecemasan setelah berhubungan seks.

Hal ini bisa jadi karena kebanyakan orang tidak menyadarinya. Merasa sedih, depresi, dan menangis setelah bercinta adalah masalah kesehatan yang nyata, dan istilah medis untuk itu disebut ‘Postcoital Dysphoria’ (PCD).

Baru-baru ini, sebuah penelitian yang memperkirakan prevalensi PCD pada pria dipublikasikan dalam Journal of Sex & Marital Therapy. Tim peneliti Australia mensurvei lebih dari 1.200 pria dengan kuesioner online dan menemukan bahwa hampir 40 persen pria mengalami PCD di beberapa titik dan 20 persen merasakannya dalam empat minggu terakhir.

Sebanyak 4 persen mengatakan mereka memiliki PCD secara teratur. Hasil menunjukkan bahwa pengalaman laki-laki dari fase setelah berhubungan seks mungkin jauh lebih bervariasi, kompleks, daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Gangguan ini biasanya berlangsung hingga dua jam pascaberhubungan intim dan dapat menyebabkan orang yang mengalaminya, cenderung menghindari atau menjadi kasar terhadap pasangannya.

Faktor seseorang mengalami Postcoital Dysphoria dapat bervariasi, mulai dari sikap seseorang terhadap seks, hubungan dengan pasangan, serta faktor sosial dan budaya.

“Termasuk kecemasan karena rentan terhadap penyakit menular seksual,” kata Dr. Kedar Tilwe, seorang seksolog dan psikiater geriatrik di Rumah Sakit Hiranandani, Rumah Sakit Jaringan Vashi – A Fortis dikutip dari Indian Express.

Dysphoria Postcoital terjadi meskipun yang bersangkutan menikmati hubungan seksual yang memuaskan. Namun, lebih sering mengikuti hubungan santai atau sembunyi-sembunyi. Seseorang perlu memahami perasaan dan pengalaman mereka, serta memeriksa kembali keyakinan, sikap, dan harapan mereka terhadap hubungan seksual.

“Penting untuk diingat bahwa Postcoital Dysphoria lebih emosional daripada fisiologis. Namun, jika terus berlanjut untuk waktu yang lama, terapi yang serius dapat membantu. Dalam praktek klinis, ini adalah presentasi yang cukup umum. Dapat terjadi pada pria dan wanita, namun tampaknya lebih umum pada pria,” tambah Dr Tilwe.