by

Perbedaan Real Madrid dengan Liverpool di Mata Rafael Benitez

Rafael Benitez punya portofolio yang cukup apik sebagai pelatih. Dia pernah menangani beberapa tim kuat, sebut saja Liverpool, Inter Milan, dan Real Madrid. Tidak banyak pelatih yang punya pengalaman sementereng itu.

Masa-masa terbaik Benitez tercipta bersama Liverpool, khususnya ketika dia menuntun The Reds jadi juara Liga Champions 2005. Sayangnya, Benitez tidak bisa menceritakan banyak hal baik tentang kariernya di Madrid.

Benitez tidak terlalu sukses bersama Los Blancos, bahkan terbilang gagal. Dia bekerja tidak sampai semusim, dipecat di tengah jalan, dan akhirnya harus mencari klub baru.

Biar begitu, Benitez tetap menaruh respek pada Madrid. Dia tahu Madrid adalah tim besar, sama seperti Liverpool.

Benitez ternyata punya ikatan yang lebih dalam dengan Madrid. Dia sudah jadi fans setia sejak masih belia, bahkan dia pernah bermain di tim Castilla.

Karena itulah Benitez tahu satu alasan kuat yang membuat Madrid begitu spesial. Dia paham betul bahwa Madrid punya mental kuat di setiap kompetisi, mereka harus terus menang.

“Saya sudah jadi suporter Real Madrid sejak baru lahir. Saya mulai bermain untuk Madrid di usia 13. Sebelum saya dihantam cedera dan harus dipinjamkan, saya harus terus menang,” ujar Benitez.

“Saya harus berjuang untuk bertahan dalam tim dan kami harus selalu meraih trofi, tidak peduli kompetisi apa itu.”

“Kemenangan adalah kewajiban. Itu sesuatu yang jadi DNA Anda, dan pada akhirnya Anda jadi pemain yang sangat kompetitif, jadi pemenang,” imbuhnya.

Jika Madrid punya mental juara, Liverpool pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Benitez cocok karena nilai-nilai yang sama itu, dia tahu Liverpool merupakan klub spesial.

“Sejak awal saya melihat Liverpool punya hasrat yang luar biasa untuk sepak bola. Mereka punya harapan tinggi dalam kompetisi, mereka sangat kompetitif, mereka ingin juara, semangat itu menular,” lanjut Benitez.

“Semua orang ingin menang, mereka bersatu dalam satu tim. Mereka bekerja keras dan menjaga komitmen, mereka melindungi satu sama lain.”

“Saya kira masa-masa sulit kelas pekerja di kota seperti Liverpool telah mengubah mereka jadi lebih kuat,” pungkasnya.