oleh

Staycation Diprediksi Bakal Jadi Primadona Usai Corona

Jakarta – Munculnya wabah virus Corona diprediksi mengubah perilaku wisatawan. Staycation diprediksi menjadi pilihan utama pelancong tepat setelah pandemi usai.

Prediksi itu diungkapkan oleh Executive Director MarkPlus Tourism Mochamad Nalendra. Nalendra merujuk beberapa tahapan perilaku pelancong setelah COVID-19 berakhir.

Tahapan pertama atau disebut A (new formal) muncul ketika penambahan kasus virus Corona baru berkurang karena sistem mitigasi sudah berjalan efektif di banyak negara walaupun vaksin belum ditemukan. Ini menyebabkan turis tetap merasa berisiko melancong sehingga perjalanan domestik menjadi primadona, bahkan diyakini traveling dalam kota alias staycation yang dipilih pelancong.

Nalendra merujuk data dari perusahaan booking engine, Sojern, pada Maret 2019 dan 2020. Pada Maret tahun ini, warga Singapura mencari referensi hotel untuk staycation dengan jumlah dua kali lipat dibanding 2019.

“Dan yang akan mengambil risiko untuk berwisata di fase ini adalah generasi Y dan Z. Mereka lebih berani ambil risiko dibanding generasi X dan baby boomers,” kata Nalendra.

Yang kedua, skenario B (early euphoria) terjadi ketika jumlah kasus baru relatif tinggi dan di saat bersamaan vaksin COVID-19 ditemukan. Situasi itu diprediksi memicu pemesanan hotel dan paket wisata meningkat tajam.

Setelah itu, ada fase terakhir yaitu skenario C atau post normal. Ini periode setelah vaksin ditemukan dan berhasil menekan jumlah kasus baru.

Perilaku wisatawan diyakini perlahan akan kembali seperti semula, namun di satu sisi pelancong akan semakin peduli terhadap dampak negatif yang dihasilkan dalam sebuah perjalanan seperti emisi karbon.

Periode ini akan memunculkan fenomena microcation (perjalanan pendek) dan slow tourism (mengunjungi sedikit destinasi namun lebih dalam pengalaman) akan semakin populer.

Selain itu, segmen upper dan luxury market dipercaya sebagai segmen yang cepat rebound karena relatif memiliki pendapatan tinggi dibanding segmen lain yang terimbas krisis ekonomi akibat COVID-19.

Di periode ini, family dan baby boomers kelas atas akan mulai melakukan perjalanan luar negeri dalam memperhatikan destinasi berkualitas.

“Faktor keselamatan dan keamanan, sistem mitigasi, dan keberlangsungan sebuah destinasi wisata akan menjadi pertimbangan baru dalam berwisata. Inilah quality tourism,” ujar Nalendra.

Apa Itu Staycation

Tak melulu harus ke luar kota atau luar negeri, liburan juga dapat dilakukan di dalam kota. Konsep liburan di dalam kota disebut dengan staycation. Disingkat dari kata ‘stay’ (tetap) dan‘vacation’ (liburan) itulah asal ungkapan staycation.

Ada pula yang menyebutnya holistay yang disingkat dari kata ‘holiday’ (liburan) dan ‘stay’ (tetap). Istilah ini pertama kali muncul tahun 2003 saat Amerika Serikat mengalami krisis keuangan.

“Menurut Google Dictionary, staycation adalah liburan yang dilakukan di negara sendiri. Bukan di luar negeri, atau liburan yang dilakukan di rumah dan melibatkan perjalanan ke atraksi-atraksi lokal yang berada di sekitar area tempat tinggal, atau dengan kata lain, menjadi turis di kota sendiri,” begitu tulis siaran pers dari Zen Rooms yang diterima KompasTravel, Selasa (25/7/2017).

Salah satu keuntungan dari staycation adalah penghematan bujet wisata, karena tak memerlukan tiket pesawat atau sewa kendaraan. Keuntungan lainya, staycation lebih hemat waktu dibanding liburan jarak panjang yang memerlukan proses berkemas, proses ke bandara, serta perubahan cuaca atau zona waktu yang membuat tubuh mudah lelah.

Aneka kegiatan yang dapat dilakukan untuk staycation antara lain bersepeda keliling kota, piknik di taman, mengunjungi museum, menikmati festival dan event, rekreasi di taman bermain, pergi ke pantai di sekitar kota, sampai menginap di hotel atau vila.

Pilihan aktivitas di hotel atau vila dapat berupa pesta di kolam renang, maraton film, memesan makanan dari luar, bermain board games (permainan manual), atau pesta kostum.

Staycation dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin menghilangkan penat tetapi hanya waktu singkat atau bujet yang tipis.