by

Warga Gunakan Getek Untuk Aktivitas Dikarenakan Jembatan Roboh

Warga Gunakan Getek Untuk Aktivitas Dikarenakan Jembatan Roboh

Bulatin.com Seputar 350 masyarakat di Tanjung Pangkal, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, terisolir karena hanya satu akses jembatan yang membentang selama 95 meter di saluran sungai batang Saman putus keseluruhan karena diterjang banjir pada Kamis 11 Oktober 2018. Masyarakat harus terpaksa memakai kapal getek sebagai pilihan moda transportasi.

“Kita terpaksa memakai kapal untuk melintas. Rata-rata masyarakat banyak yang kerja di perkebunan serta pabrik pemrosesan sawit PT Gersindo Minang Plantations (GMP),” kata Martias, salah satu masyarakat setempat, Selasa sore 16 Oktober 2018.

Untuk dapat memakai kapal getek ini, masyarakat mesti membayar biaya sebesar Rp5 ribu untuk sekali jalan. Itu berarti dalam satu hari masyarakat mesti merogoh kocek sebesar Rp10 ribu.

Martias mengharap jembatan bisa cepat dibuat kembali, sebab bila tidak maka ada beban tambahan keseharian yaitu, biaya transportasi kapal getek.

“Kita mengharap jembatan ini cepat dibuat kembali. Jembatan ini, adalah hanya satu akses transportasi yang berada di sini,” katanya.

Tidak hanya jembatan, Martias ikut mengharap terdapatnya pertolongan logistik berbentuk minuman dan makanan, dan keperluan yang lain yang menekan. Masyarakat yang terisolir di Tanjung Pangkal ini cukuplah banyak.

Diwawancara terpisah, Bupati Kabupaten Pasaman Barat Syahiran mengatakan bila pertolongan logistik buat daerah yang belum juga dapat dijangkau akan secepat-cepatnya didistribusikan. Termasuk pertolongan untuk masyarakat yang berada di Tanjung Pangkal serta tempat lain.

Syahiran mengakui, baik BPBD ataupun tim relawan yang ada, sampai sekarang ini memang alami masalah untuk tembus beberapa tempat yang terdampak banjir. Sebab, dikarenakan akses ke arah tempat itu seperti ruas jalan serta jembatan penghubung yang ada terputus. Akan tetapi, pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendistribusikan pertolongan itu.

Khusus untuk di Tanjung Pangkal, Syahiran menyatakan pihaknya akan berupaya mengurangi beban biaya buat semua masyarakat yang manfaatkan kapal getek menjadi satu-satunya moda transportasi.

“Nanti kita akan koordinasikan dengan pemilik kapal. Jika dapat ongkosnya dikurangi. Walaupun masih di harga biaya saat ini, maka kita upayakan dari sumber dana daerah, yang dapat digunakan. Kelak akan kita upayakan. Jika untuk anak-anak sekolah kan telah gratis itu,” katanya.

Berkaitan perbaikan ruas jalan serta jembatan penghubung yang rusak, Syahiran mengharap terdapatnya pertolongan, baik itu dari Pemerintah Propinsi ataupun Pemerintah ditempat. Sebab bila memercayakan dana APBD Kabupaten Pasaman, jadi kemungkinan kecil rencana itu akan terwujud dalam tempo dekat.

“Kita begitu mengharap terdapatnya pertolongan dari provinsi ataupun pusat. Jika dana kita, begitu kecil, begitu terbatas,” tutupnya.