by

Kemenhub Dinilai Lamban Soal Harga Tiket Pesawat yang Masih Mahal

Kemenhub Dinilai Lamban Soal Harga Tiket Pesawat yang Masih Mahal

Bulatin.com – Pengamat Penerbangan, Alvin Lie memandang, masih tetap mahalnya harga ticket pesawat sekarang ini, karena lambatnya Kementerian Perhubungan mengevaluasi batas harga dengan reguler.

Menurutnya, pertimbangan tarif batas atas (TBA) atau tarif batas bawah (TBB) dimaksud memang seharusnya memperhitungkan nilai ganti rupiah, harga avtur, suku bunga, serta inflasi.

“Situasi harga ticket sekarang ini, yang hampir semua pasang harga pada atau mendekati batas atas, tidak terlepas dari lambatnya Kemenhub mengevaluasi dengan reguler TBA serta TBB,” kata Alvin.

Ia menjelaskan, jika semenjak 2017, pemerintah dengan reguler mengevaluasi tarif itu, tentu saja maskapai akan meningkatkan tarifnya dengan setahap. Bila itu dikerjakan, peluang sampai sekarang ini masih tetap dapat mengaplikasikan harga fleksibel atau dynamic pricing.

“Misal semenjak 2017, Kemenhub mengevaluasi TBB serta TBA tiap-tiap enam atau 12 bulan, tidak insiden harga naik mencolok seperti saat ini,” katanya.

Tetapi di sisi lain, lanjut ia, misal TBB serta TBA dilihat dengan reguler, harga ticket pesawat ini hari dapat juga tambah tinggi. Menurut dia, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi juga berjasa meredam harga ticket pesawat pada level sekarang ini.

“Walaupun resikonya, neraca keuangan airlines tunjukkan tahun 2018 semua rugi,” katanya.

Bahkan juga, lanjut ia, Indonesia Air Asia yang sangat efektif pula rugi Rp998 miliar pada tahun lalu. “Tetapi, mereka semua masih tetap taati TBB serta TBA,” katanya.

Berdasar pada bukti di lapangan, ia memberikan, sampai kini beberapa maskapai terlalu cepat atau ambisius meningkatkan armada serta rute memakai harga ticket promosi yang tidak menggambarkan keekonomian. Bahkan juga, ada banyak rute yang sebetulnya belum menguntungkan masih dilayani, untuk bangun kekuatan pasar serta merek image.

Kerugian rute-rute itu juga ditanggung pada pendapatan dari rute gemuk yang menguntungkan, alias subsidi silang. Saat beban biaya operasional bertambah, sedangkan TBB serta TBA tidak naik, jadi keuntungan sampai kontan flow maskapai juga turun.

“Ujung-ujungnya terjadi situasi sekarang ini. Airlines tidak lagi dapat kerjakan subsidi silang. Bahkan juga, untuk rute gemuk juga pasang harga pada atau mendekati TBA,” tuturnya.